Kamis, 10 Maret 2011

MASYARAKAT SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN

Posted by ABDURROCHMAN 06.35, under | No comments

MASYARAKAT SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN
Oleh : Drs. Abd Rochman

1. Pendahuluan
Islam sebagai agama yang sempurna, mengandung implementasi kependidikan yang mampu membimbing dan mengarahkan manusia menjadi seorang mukmin, muslim, dan muttakin melalui proses tahap.
Pentahapan dalam proses pendidikan tersebut dijelaskan oleh Rosullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Daud dari Anas R.A yang artinya sebagai berikut, anak itu pada hari ketujuh dari kelahirannya disembelihkan akikahnya, serta diberi nama dan disingkirkan dari segala kotoran-kotoran, jika ia telah berumur 6 tahun ia dididik beradap susila, jika ia telah berumur 9 tahun dipisahkan tempat tidurnya, dan jika telah berumur 13 tahun dipukul agar mau sembahyang, bila ia berumur 16 tahun boleh dikawinkan, setelah itu ayah berjabatan tangan dengannya dan mengatakan saya telah mendidik mengajar dan mengawinkan kamu, saya mohon perlindungannya kepada Allah dari fitnah di dunia dan siksaan di akhirat.
Dalam proses pendidian untuk mengarahkan dn membimbing manusia menjadi seorang mukmin, muslim, dan muttqin tidaklah semudah membalikkan tangan. Pengaruh-pengaruh lingkungan khususnya masyarakat sekitarnya sangat menentukan terhadap keberhasilan proses pendidikan tersebut, karena antara masyarakat dan pendidikan selalu terjadi interaki (saling mempengaruhi) atau saling mengembangkan sehingga satu sama lain dapat mendorong perkembangan untuk mengokohkan posisi dan fungsinya.
Pengaruh lingkungan (masyarakat) terhadap prose pendidikan ini, secara tersirat dijelaskan oleh Rosulullah dlam suatu hadis yang diriwayatkan oleh al-thabrani dari Aswad bin Sura’i sebagai berikut, setiap bayi ini dilahirkan selaras dengan fitrah sampai lisannya mengatakan sendiri, maka ayahnyalah yang menyebabkan yahudi, nasrani, atau majusi.
Dari uraian tersebut di atas memberikan gambaran bahwa masyarakat juga merupakan lembaga yang sangat menentukan terhdap proses pembentukan anak didik. Lingkungan masyarakat yang agamis akan membawa pengaruh terhadap perilaku anak didik menjadi agamis. Begitu juga sebaliknya yaitu lingkungan yaitu lingkungan masyarakat yang non agamis akan berpengaruh kepada pembentukan anak didik yang non agamis pula.
Dengan berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pada diuraiankan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi lembaga masyarakat dalam pendidkan serta upaya masyarakat dalam menciptakan proses pendidikan yang islami.

II. Beberapa pokok pengertian
A. Pengertian Pendidikan
H.M. Arifin menjelaskan bahwa secara teoritis pengertian pendidikan adalah memberi makan kepada jiwa anak didik, sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah.
Sedang menurut Sutari Imam Barnadib, ilmu pendidikan merupakan ilmu pengetahuan rohani, karen situasi pendidikan berdasar atas tujuan manusia tidak memberikan anak kepada keadaan alamnya, melainkan memandangnya sebagai mahkluk sosial dan akan dibawa ke arah manusia susila yang berbudaya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ilmu pendidikan adalah ilmu yang normatif karena berdasar atas pemelihan antara yang baik dan yang tidak baik unuk anak khususnya dan manusia pada umumnya.
Dari pengertian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah :
1. Memberikan makna atau mengisi jiwa anak didik dan dimulai dari jiwa yang masih bersih bagaikan kertas tanpa goresan.
2. Dengan pengisian jiwa tersebut, maka diharapkan akan menjadikan manusia yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.
3. Disamping itu juga dengan pendidikan akan lahir manusia-manusia susila yang berbudya dan akan mendapatkan kepuasan rohaniah yang tidak bisa dinilai dengan materi.
Pengertian tersebut di atas menjelaskan bahwa penekanan pendidikan bukan hanya ditujukan pada pengembangan intelektual/rasional saja, akan tetapi pada intinya adalah pengisian jiwa yang ada dalam hati, sehingga manusia tersebut dapat berpikir dengan didasari jiwa yang bersih.
Penyelenggaraan pendidikan untuk menghasilakan manusia-manusia seperti tersebut di atas dapat dilakukan melalui:
1. Pendidikan formal yaitu diselenggarakan oleh lembaga pendidikan secara sistematis, terencana dan terarah.
2. Pendidikan informal yaitu pendidikan dari lingkungan keluarga.
3. Pendidikan nonformal yaitu proses dari lingkungan masyarakat.
B. Pengertian Masyarakat
Masyarakat adalah kumpulan-kumpulan individu dan kelompok yang terkait oleh kesatuan negara kebudayaan, dan agama termasuk segala jalinan hubungan yang timbal balik, kepentingan bersama, ada kebiasaan, pola-pola, teknik-teknik, sestem hidup dan sebagainya.
Karena masyarakat adalah kumpulan dari individu-individu, maka baik dan tidaknya masyarakat tergantung dari individu. Oleh karena itu dalam membina masyarakat maka islam memusatkan perhatiannya kepada individu-individu. Membina individu yang islami untuk masyarakat yang islami juga. Masyarakat yang islami adalah masyarakat yang menerapkan islam dan segala aspek. Oleh karenaitu masyarakat yang islami mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Syariat Islam diletakkan padaposisi yang paling tinggi, oleh karena itu segala urusan hidup dikembalikan kepada al-Qur’an dan Sunnah serta Ijma’ untuk kemaslahanummat manusia
2. Saling menghormati dan tolong menolong denganpenuh kasih sayang. Masing-msing individu saling menjaga hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat, tidak ada yang merasa dirugikan. Dengan demikian akan terjadi interaksi yang didasari ata rasa kasih sayang di antara mereka.
3. Bermusyawarah diantara ereka dalam segala urusan. Demi kemaslahatan orang banyak diputuskan dengan cara musyawarah.
4. Saling menyeru dalam kebenaran dan kesabaran. Diantara mereka saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, bukan saling menajak kepada dosa dan permuuhan

III. Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat sebagai pendidikan dan upaya mengatasinya.
Masyarakat besar sekali pengaruhnya dalam memberikan arahan terhadap pendidikan, terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada didalamnya. Pempinan masyarakat muslim tentu saja menghendaki agar sikap anak didik menjadi anggota masyarakat yang taat dan patuh menjalankan agamanya, sehingga kelak besar mengharapkan menjadi anggota masyarakat yang baik pula.
Dengan demikian di pundaknya terpikul beban keikutsertaan dalam membimbing pertumbuhan dan perkembangan anak ini berarti bahwa mayarakat khususnya para pemimpinnya ikut berperan dan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan
A. Faktor Yang Mempengaruhinya.
Dalam pelaksanaan peran masyarakat untuk mendidik anggotanya menjadi manusia yang islami tidaklah mudah dibayangkan karena ada beberapa faktor mempengaruhi antara lain :
1. Wariran kebudaya negatif yang masih mengakar
Kebudayaan negtif maksudnya adlah kebudayaan yang diwarisi dari nenek moyang bangsa Indonesia yang masih suka memuja-muja tempat yang dianggap keramat. Percaya kepada tahayul dan sebagainya. Kesemuaanya itu sangat bertentangan dengan akidah islam.
2. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
Kemajun ilmu pengetahuan dn tekhnologi khususnya ekhnologi informasi disamping banyak menfaatnya juga sangat mempengaruhi terhadap proses pendidikan. Dengan ditayangkannya acara telivisi khususnya telivisi swasta maka semua kebudayaan dari asing masuk ke indonesia melalui film-film, iklan atau acara yang lainnya. Apalagi dengan teknologi internet yang bebas dari sensor, semua kebudayaan asing tersebut akan masuk dengan leluasa. Kemajuan dibidang teknologi industri dengan dibangunnya pabrik-pabrik di perkotaan, akan terjadi urbanisasi-urbanisasi yang membawa pengaruh terhadap masyarakat pedesaan.
B. Upaya Mengatasi Masalah
Upaya-upaya yang perlu dilakukan masyarakat khususnya pemimpn masyarakat dalam mendidik anggotanya khususnya para generai muda dan anak-anak agar kelak akan menjadi manusia yang islami sebagai berikut :
1. Mengikis Kebudayaan yang Berbau Syirik
Kebudayaan yang berbau syirik nampaknya sudah menjadi warisan nenek moyang sejak dahulu kala. Upacara-upacara adat yang melibatkan segenap anggota masyarakat untuk memuliakan tempat yang dinggap keramat seperti kuburan dengan membawa segaa macam makanan untuk persajian, itu seluruhnya syirik. Ada juga anggota masyarakat yang tidak bisa membedakan antara syariat dengan budaya, sehingga mereka mengganggap bahwa suatu acara adat masyarakat dianggap sebagai suatu pelaksanaan syariat dan bahkan sampai berlebihan, seperti acara maulid Nabi, kemaian, pindah rumah, perkawinan dn sebagainya. Hal-hal tersebut seharusnya para tkok masyarakat memberikan penjelasan dan bimbingan dengan berdasarkan syariat islam yang murni kepada anggotanya, khususnya para generasi muda dan anak didik. Dengan penjelasan dan bimbingan tersebut, maka itu merupakan pendidikan untuk membentuk jiwa yang islami tanpa tercampuri oleh kemusrikan.
Pendidikan yang diterapkan oleh lukman dan diabadikan dalam al-quran, pertama-tama adalah masalah akidah
Dengan akidah yang kuat dari masing-masing individu, maka akan tercipta masyarakat yang kuat imannya dan tidak mudah untuk disusupi dan pengaruhi budaya asing.
2. Menfungsikan Masjid sebagai Pusat Kegiatan
Pendidikan non formal memang tidah semua pelaksanaanya dengan pendidikan formal, namun hasil yang dicapai tidak kalah pentingnya dengan pendidikan formal. Pendidikan non formal yang paling ampuh dalam membina dan membimbing masyarakat muslim adalah menfungsikan masjid disamping sebagai sarana ibadah juga sebagai lembaga pendidikan masyarakat. Rosulullah SAW dalam membina ummatnya, mengatur urusan negara, mengatur strategi perang berpusat di Masjid.dengan menfungsikan masjid sebagai pusat kegiatan, maka akan terbina dan terdidik individu-individu untuk lembaga persatuan dan kesatuan ummat islam tanpa melihat latar belakang etnis madhab maupun lainnya.
Pengembangan petensi yang dilakukan di masjid bisa berupa:
One. Pengkajian Islam disertai dengan diskusi
Two. Pembentukan remaja masjid, majelis ta’lim dan sebagainya
Three. Latiahan keterampilan, seperti membuat kursi memperbaiki radio televisi komputer dan sebagainya
Four. Latihan berpidato dengan menggunakan bahasa arab dan inggris serta membiasakab bentuk tidak berbahasa indonesia pada hari-hari yang telah ditentukan
3. Mendidik masyarakat untuk bergotong royang
Untuk mendidik agar masyarakat bersatu dalam suka maupun duka, maka pendidikan gotong royong ini perlu ditamankan sedini ungkin. Sifat masa bodoh tidak mau tau dengan penderitaan orang lain adalah sifat yang dihasilkan dari kelompok masyarakat yang tidak mau bergotong royong. Oleh karena itu upaya pendidikan gotong royong yang dilakukan masyarakat beupa :
One. Gotong royong dalam membangun srana umum seperti jalan raya, jembatan, masjid, pos keamanan, sekolah dan sebagainya.
Two. Gotong royang dalam membantu anggota masyarakat seperti membantu pendirian rumah, kematian, musibah kebakaran, acara perkawinan dan sebagainya.
Dengan demikian pendidikan gotng royong ini, akan terbina individu yang peka terhadap lingkungannya, suka menolong dan sebagainya. Kesemuaanny itu karena dijiwai oleh akhlak mulia yang tercermin dari tingkah laku dn perbuatan.
4. Mendidik Masyarakat untuk bermusyawarah
Untuk hal-hal yang menyangkut kepentingan umum hendaknya setiap anggota masyarakat diikut sertakan dalam musyawarah, agar mereka terdidik untuk menerima pendapat orang lain da tidak selalu mengatakan pendapatnya paing benar.disamping itu dengan musyawarah akan tertanam pada individu rasa saling menghormati, berjiwa besar tidkan kerdil., dan ada motivasi untuk memikirkan kesulitan ummat. Rosulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh al-Tabrany dari Hudaifah bin Yaman yang artinya sebagai berikut “ Bukan dari golongan kami seseorang yang tidak memikirkan permasalahnya ummat islam”
Pendidikan dengan latihan untuk menyatukan pendapat orang banyak ini, akan terkesan dan tertanam dlam jiwa indoividu sifat demokratis, tidak semena-mena andaikata kelak menjadi seorang pemimpin.
5. Pendidikan masyarkat untuk saling menyatu dalam kebenaran.
Semua anggota masyaraat memikul tanggung jawab membina, memakmurkan, memperbaiki, mengajak, kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, dan melarang yang mungkar.
Untuk menyeru kedalam kebenaran dan melarang dari yang mungkar hendaklah masing-masing individu dengan cara lemah lembut dan penuh kasih sayang, bukan dengan cara kekerasan yang mengakibatkan permusuhan. Kebiasaan-kebiasaan yang demikian dari masyarakat akan berpengaruh terhadap individu untuk selalu berbicara yang sopan dan tidak menyakitkan orang lain.
Saling menyeru dalam kebenaran dan melarang dari yang mungkar bisa dilaksnakan dengan car :
One. Melalui khutbah jum’at dengan tema yang menyangkut masalah masyarakat saat ini.
Two. Melalui ceramah agama pada har-hari besar yang dikaitkan dengan permasalahan masyarakat saat ini.
Three. Kunjungan tokoh-tokoh masyarakat ke rumah masing-masing individu dengan cara kekeluargaan untuk mengajak kepada kebenaran dan melarang kepada yang mungkar.
Four. Saling mengunjungi pada acara hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pada kesempatan ini disampaikan bersilaturahmi, juga dsisipkan acara saling menyeru dan menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Five. Pada kesempatan lain yang dianggap perlu.


IV. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari bab satu sampai bab tiga penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Dalam rangka mengarahkan dn membimbing anusia menjadi seorang yang mukin, muslim, muhsin dan muttaqin maka faktor pendidikan sangat menentukan.
2. Dalam proses pendidikan untuk menjadikan manusia seperti terebut di atas, bukan hanya melalui pendidikan formal yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan, akan tetapi faktor non formal juga sangat menentukn.
3. Faktor non formal atau pendidikan yang didapat dari lingkungan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kebudayan masing-masing. Bagi masyarakat yang islami tentu akan mendidik anggota masyarkatnya taat dan patuh menjalankan syarat islam.
4. Agar individu dari anggota masyarakat menjadi manusia yang mukmin muslim, muhsin dan muttaqin, maka upaya masyarakat dalam mendidik anggotanya adalah dengan menegakkan akidah, menfungsikan masjid sebagai pusat kegiatan. Mendidik masyarakat untuk bergotong royong, bermusyawarah serta saling menyeru dalam kebenaran dan melarang kemungkaran.

Daftar Pustaka
Al-Sya’bany Omar Muhammad, al-Tomny Falsafah Pendidikan Islam, alih bahasa oleh Hasan Langgulung (Jakarta : Balai Pustaka, 1979)

Arifin, H. M. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta Bumi Aksara, 1991)

Barnadib Sutari Imam, Pengantar Ilmu Pendidikan (Jakarta : Andi Offset, 1992)

Departemen Agama Islam, Al-Quran dan Terjemahannya ( Jakarta : Depagm 1971)

Mashyr. Abd. Azis. Mutiara Al-Quran dan hadis (Surabaya :: Al Ikhlas, 1983)

Nawawi Hadari, Administrasi Pendidikan (Jakarta : Haji Mas Agung, 1998)

Zain, Ahmad Fauzan Hadis Nabawi Arbain (Semarang : Al-Munawir, 1956)

0 komentar:

Poskan Komentar

Nama ditulis pada Pilihan Select Profile

Tags

PENDIDIKAN NILAI

IMAM GAZALI BERTANYA

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka Teki ) :

Imam Ghazali = " Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
Murid 1 = " Orang tua "
Murid 2 = " Guru "
Murid 3 = " Teman "
Murid 4 = " Kaum kerabat "
Imam Ghazali = " Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali = " Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?"
Murid 1 = " Negeri Cina "
Murid 2 = " Bulan "
Murid 3 = " Matahari "
Murid 4 = " Bintang-bintang "
Iman Ghazali = " Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama sebelum menyesal".

Iman Ghazali = " Apa yang paling besar didunia ini ?"
Murid 1 = " Gunung "
Murid 2 = " Matahari "
Murid 3 = " Bumi "
Imam Ghazali = " Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A'raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka."

IMAM GHAZALI" Apa yang paling berat didunia? "
Murid 1 = " Baja "
Murid 2 = " Besi "
Murid 3 = " Gajah "
Imam Ghazali = " Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah."

Imam Ghazali = " Apa yang paling ringan di dunia ini ?"
Murid 1 = " Kapas"
Murid 2 = " Angin "
Murid 3 = " Debu "
Murid 4 = " Daun-daun"
Imam Ghazali = " Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT (Surah al-Ma'un (4-7). Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat "

Imam Ghazali = " Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? "
Murid- Murid dengan serentak menjawab = " Pedang "
Imam Ghazali = " Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA (Surah 2:217). Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri "